Berita : Pendidikan di NTB Harus Tetap Berjalan

| | Tanggal : 10 September 2018 | Di Lihat : 71 Kali

SIARAN PERS
Nomor: 159/Sipres/A5.3/HM/IX/2018

Mendikbud: Pendidikan di NTB Harus Tetap Berjalan

Mataram, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memimpin apel siaga Kembali Sekolah di lapangan Bumi Gora, kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), kota Mataram, Minggu (9/9/2018). Mendikbud mengimbau agar siswa dapat terus belajar dan bersekolah. Pendidikan harus terus berjalan meskipun dalam keterbatasan kondisi sarana prasarana.

"Dengan dicanangkannya Gerakan Kembali Sekolah ini, untuk mempertegas kembali, apapun kondisinya, anak-anak NTB tidak boleh berhenti belajar. Tiada hari tanpa belajar," disampaikan Mendikbud di depan sekitar tiga ribu peserta apel yang terdiri dari perwakilan guru, siswa, relawan, dan pegawai unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Muhadjir memotivasi para guru untuk bersemangat agar bisa segera mendorong anak didiknya kembali bersekolah. "Yang paling penting anak-anak diajak untuk bergembira dulu. Gurunya bisa membuat anak-anak merasakan the joy of learning dulu," tuturnya.

5.298 Guru Terdampak Gempa Dapat Tunjangan Khusus

Untuk membantu meringankan beban guru, Kemendikbud menyalurkan tunjangan khusus untuk para guru terdampak gempa di NTB. Dana bantuan telah disalurkan melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) atas nama masing-masing guru.

"Untuk guru PNS sebesar 1,5 juta setiap bulan, sedangkan untuk guru non-PNS sebesar 2 juta rupiah setiap bulan, selama enam bulan," kata Mendikbud disambut gembira para guru.

Total guru yang telah mendapatkan bantuan tunjangan khusus dari Kemendikbud sebanyak 5.298 guru di wilayah Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, dan Sumbawa. Mendatang, dimungkinkan penambahan jumlah penerima bantuan seiring dengan pemutakhiran data yang dilakukan.

"Yang penting, jangan sampai yang tidak terdampak gempa mendapatkan tunjangan. Dan yang terdampak gempa, malah tidak mendapatkan. Saya titip kepada dinas pendidikan untuk benar-benar mendata guru-gurunya," pesan Mendikbud usai menyerahkan bantuan kepada Bupati Lombok Utara.

Bantuan kepada guru terdampak gempa di NTB ini merupakan bentuk perlindungan kepada guru sesuai dengan Permendikbud Nomor 11 Tahun 2017.

"Tunjangan khusus yang saya terima ini insyallah mungkin untuk membangun kembali tempat tinggal, dan sebagian lagi untuk keluarga saya yang terkena musibah juga," kata Hirmawati, guru Taman Kanak-kanak Aisyah Lekok, Kabupaten Lombok Utara.

Solidaritas Bangun Kembali NTB

Usai apel, Mendikbud melepas 21 truk yang membawa bantuan bagi warga belajar di berbagai wilayah di NTB. Bantuan berisi paket peralatan sekolah, peralatan permainan dan kesenian, alat tulis dan kertas untuk keperluan sementara kegiatan sekolah, serta logistik untuk keperluan tenaga kependidikan.

Bantuan tersebut akan didistribusikan ke tujuh kabupaten/kota terdampak gempa bumi, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, dan Kota Mataram.

Total bantuan yang disiapkan Kemendikbud untuk penanganan gempa di NTB sebesar Rp258 miliar. Bantuan tersebut merupakan optimalisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta donasi dari seluruh pegawai Kemendikbud.

"Pemerintah pusat telah optimal menangani masalah gempa NTB ini. Pada akhirnya yang harus menyelesaikan adalah masyarakat dan pimpinan daerah NTB sendiri," ujar Muhadjir.

Sampai saat ini Kemendikbud telah menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 360 ribu siswa NTB. Segera akan dilakukan pemutakhiran data untuk memberikan penambahan jumlah siswa penerima manfaat.

Bersama relawan dari berbagai lembaga dan komunitas, Kemendikbud memberikan pelayanan psikososial dan psikoedukasi, serta trauma healing kepada para siswa dan guru. Tim Posko Pendidikan juga secara rutin menghadirkan bioskop keliling untuk menghibur pengungsi.

Mendikbud mengimbau agar pemberian bantuan harus relevan dengan kebutuhan. Ia mengimbau agar unit-unit pelaksana teknis dapat fokus memberikan bantuan yang paling dibutuhkan, berbasis data, dan meningkatkan koordinasi antar lembaga baik pusat maupun daerah, serta lembaga nonpemerintah. "Laporan jangan yang baik-baik saja. Ini memang berat, tetapi kerja keras kita untuk membangun kembali NTB. NTB harus bangkit kembali, lebih baik lagi," pesannya kepada peserta Rapat Koordinasi Penanganan Gempa Lombok yang diselenggarakan Minggu sore di Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD Dikmas) NTB.

Muhadjir berharap agar Posko Pendidikan dan para guru dapat memelopori pendidikan karakter bagi siswa melalui beragam aktivitas dan keteladanan di kelas-kelas sementara. Momentum bencana ini, menurutnya, dipandang tepat untuk mendidik kerja sama, gotong royong, kemandirian anak-anak NTB. "Mereka juga bisa diajak untuk ikut kerja bakti, membersihkan lingkungan sekitarnya. Bencana ini memang ujian, kalau dimanfaatkan dengan baik dapat menguatkan mental, dan membuat kita semua menjadi lebih baik lagi," ujarnya.

Kelas Sementara Terus Dibangun

Kemendikbud juga akan menambah sebanyak 650 tenda untuk sekolah darurat sehingga total tenda yang didistribusikan lebih dari 1.000 unit. "Target kita seratus persen siswa NTB kembali ke sekolah dalam waktu sesingkat-singkatnya," kata Muhadjir.

Beberapa daerah, menurut Mendikbud, sudah memberikan komitmen untuk bersama-sama membangun kembali sekolah-sekolah di NTB. Di antaranya, pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pemerintah Kota Surabaya, dan pemerintah Kota Malang.

"Kalau perlu, nama sekolah yang dibantu dibangun dapat diubah dengan nama yang berkaitan dengan daerah yang telah membantu. Untuk kenang-kenangan bahwa seluruh bangsa Indonesia turut prihatin, dan bersama-sama mendukung pemulihan NTB. Ini wujud kerukunan sesama anak bangsa," jelasnya.

Kemendikbud terus melakukan inventarisasi sekolah-sekolah terdampak gempa. Untuk sekolah yang rusak berat akan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Sedangkan kerusakan sedang dan ringan dapat ditangani oleh Kemendikbud bekerja sama dengan berbagai lembaga memperbaiki sekolah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Suandi, menyampaikan bahwa semangat anak-anak didik untuk belajar masih tergolong baik. Kegiatan psikososial yang dilakukan berdampak positif bagi mental siswa terdampak gempa.

"Memang kalau kita lihat, lebih baik jika mereka (siswa) berada di sekolah daripada hanya beraktivitas di tenda-tenda pengungsian," ujarnya. (*)

Mataram, 9 September 2018
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan