HUBUNGAN LATIHAN OLAHRAGA DAN HIPERTENSI

HUBUNGAN LATIHAN OLAHRAGA DAN HIPERTENSI

Oleh  Yuda purwaka

 

A. PENDAHULUAN

Kemajuan disegala bidang kehidupan terutama teknologi menyebabkan perubahan perilaku gerak manusia. Keadaan ini makin diperburuk oleh perilaku yang kurang sehat disertai stres psikologi, yang secara tidak langsung akan menurunkan derajat kesehatan seseorang. Keadaan kurangnya aktivitas menjadi pemicu hipertensi yang merupakan faktor resiko mayor yang memicu terjadinya serangan jantung dan stroke.

Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga Depkes (1995), diperoleh data kematian yang disebabkan jantung dan pembuluh darah (PKV) menduduki urutan pertama. Diantara PKV yang tertinggi adalah penyakit jantung koroner, stroke, dan hipertensi yang akhirnya dapat menyebabkan komplikasi terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke (Kalim, 1996).

B. HIPERTENSI

            Seseorang yang menderita hipertensi, secara langsung akan mengakibatkan penurunan usia harapan hidup, hipertensi dapat meningkatkan angka  kesakitan dan angka kematian. Hipertensi berarti tekanan darah diseluruh sirkulasi arteri lebih tinggi dari normal. Hipertensi pada dasarnya merupakan gejala dari suatu penyakit. Di Indonesia diperoleh data penderita hipertensi yang berbeda-beda pada beberapa daerah, misalnya penduduk pinggiran jakarta, frekuensi hipertensi 14,2 %, penduduk desa Sumatera Barat 19,4 %, dan penduduk kota semarang 9,3 %, (Kalim,1996).

1. Faktor Resiko Hipertensi

            Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang beresiko untuk hipertensi, baik yang bersifat dapat dimanipulasi maupun yang tidak dapat dimanipulasi. Faktor-faktor tersebut antara lain : kelebihan berat badan, usia, ras, herediter, perbedaan kultur, diet, pola makan, dan pola hidup, serta jenis kelamin (Taddei,1997 ; Dustan,1986).

2. Klasifikasi Hipertensi

            Seseorang dikatakan hipertensi apabila : tekanan darah sisitolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg, apabila tidak memakai obat anti hipertensi. Klasifikasi hipertensi menurut WHO-ISH Guidelines (1999) yang dikutip Mawi (2000), sebagai berikut : Klasifikasi pada orang dewasa yang berusia diatas 18 tahun adalah sebagai berikut : terkanan darah normal, apabila sisitolik < 130 mmHg dan diastolik < 85 mmHg. Tekanan darah dikatakan high normal, apabila sistolik antara 130-139 mmHg dan diastolik antara 90-99 mmHg, dimana borderline-nya adalah bila sistolik antara 140-149 dan diastolik antara 90-94 mmHg. Hipertensi sedang apabila sistolik antara 160-179 mmHg dan diastolik antara 100-109 mmHg dan hipertensi berat, apabila sistolik >180 mmHg dan diastolik > 110 mmHg. Dikatakan isolated systolic hypertension apabila sistolik > 140 mmHg dan diastolik < 90 mmHg dan boderline apabila sistolik antara 140-149 mmHg dan diastolik < 90 mmHg. Untuk pasien yang lebih tua, tekanan darah tersebut normal apabila kurang dari 140/90 mmHg. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu : (1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, dan (2) hipertensi skunder.

a. Hipertensi Esensial (primer)

            Hipertensi esensial meliputi hampir 99 % dari seluruh pasien hipertensi dan sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hipertensi esensial dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetik, metabolisme natrium dalam ginjal dan aldosteron (Guyton,1994). Hipertensi esensial merupakan hipertensi dengan penyakit asal tidak diketahui dan adanya tendensi herediter yang kuat. Pada hipertensi ini selain sulit diketahui apa penyakit asalnya, sulit juga untuk diketahui mekanisme apa yang memulainya dan bagaimana perjalanannya. Namun demikian berdasarkan pada hasil pengamatan ahli dapat diketahui mekanismenya apabila diketahui yang terlibat dalam proses kejadiannya.

Ciri-ciri penderita hipertensi esensial antara lain :

1. Tekanan darah arteri rata-rata meningkat 40-60 %

2. Renal blod flow (RBF) pada stadium akhir menurun mencapai setengah normal

3. Resistensi terhadap aliran darah yang melewati ginjal meningkat 2-4 kali lipat

4. Terdapat penurunan renal blod flow (RBF), tetapi glomerular filtration rate masih kurang lebih normal. Dalam hal ini dengan tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan adekuat lewat glomerulus ke tubulus renalis

5. Curah jantung kurang lebih normal

6. Tekanan perifer meningkat + 40-60 % sesuai dengan meningkatnya tekanan darah

7. Hampir semua penderita hipertensi esensial ginjal tidal mengekresikan air dan garam dalam jumlah yang cukup kecuali pada tekanan darah yang tinggi (Sidabutar, 1993)

b. Hipertensi Sekunder

            Mawi (2000) menjelaskan bahwa hipertensi sekunder atau hipertensi yang diketahui penyebabnya hanya sebagian kecil saja. Penyebab terjadinya hipertensi sekunder adalah:

1. Hipertensi renal dapat disebabkan oleh penyakit parenkim ginjal, penyakit arteri renalis, dan penyakit yang menyebabkan kompresi ginjal

2. Hipertensi endokrin disebabkan oleh kelebihan mineral kortikoid dan glukkortikoid serta pemakaian obat kontrasepsi oral

3. Hipertensi neurogenik seperti kondisi ansietas, gangguan pusat vasomotor, penyakit modulla spinalis, dan saraf tepi

4. Penyakit kelainan pembuluh darah seperti cortatio aortae

5. Hipertensi pada toxeemia gravidarum seperti pada preeklampsia dan ekslampsia

6. Kelainan lain seperti polisitemia dan hiperkalsemia

C. PENANGANAN HIPERTENSI

            Menurut Kusmana (1997), Kalim (2000) menjelaskan bahwa dalam penanganan hipertensi selain pengobatan harus diupayakan tindakan non farmakologi (tanpa obat-obatan yang menetap). Pengobatan farmakologi dapat diberiakan seminimal mungkin dalam kasus-kasus yang sudah mendekati serius. Terdapat tiga jenis obat anti hipertensi yaitu : obat diuretik, simpatolitik dan vasodilatator. Pada tindakan non farmakologi yang harus dilakukan adalah (1) olahraga yang teratur, (2) penurunan berat badan, (3) membatasi makan garam, (4) berhenti merokok, (5) berhenti minum kopi, (6) mengubah gaya hidup, serta (7) menghindari obat-obat yang yang dapat meningkatkan tekanan darah, misalnya : obat rematik atau anti inflamasi nonsteroid, prednison atau kortikosteroid lainnya dan anti depresan. Penanganan hipertensi yang tidak tepat dan berkelanjutan akan mengakibatkan komplikasi terhadap fungsi jantung, terjadinya stroke (otak) dan ginjal (Lumbantobing, 1998)

D. HIPERTENSI DAN LATIHAN OLAHRAGA

            Pengobatan pada hipertensi semestinya dilakukan secara nonfarmakologi. Upaya non farmakologi yang lebih memasyarakat adalah olahraga aerobik, karena pelaksanaanya mudah ,murah, meriah, manfaat dan aman. Banyak bentuk olahraga aerobik yang dapat ditempuh oleh para pasien hipertensi, mulai dari jalan cepat, jogging, senam aerobik, dan lainnya yang dilakukan secara sukarela dan sesuai dengan peminatnya terhadap macam olahraga aerobik.

1. Olahraga Untuk Penderita Hipertensi

            Penderita hipertensi atau mereka yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi dapat mengikuti program olahraga atau latihan yang sesuai dengan kondisi penyakitnya. Seseorang mungkin saja hanya mengidap hipertensi tanpa mengidap penyakit laiannya, salah satunya ialah penyakit jantung koroner (PJK).

            Untuk penderita hipertensi faktor yang harus diperhatikan adalah tingginya tekanan darah. Semakin tinggi tekanan darah semakin keras kerja jantung, sebab untuk mengalirkan drah saat jantung memompa berarti jantung harus mengeluarkan tenaga sesuai dengan tingginya tekanan itu. Bila jantung tidak mampu memompa dengan tekanan setinggi itu, berarti jantung akan gagal memompa darah.

            Masuk akal bagi penderita hipertensi faktor tekanan darah memegang peranan penting dalam menentukan boleh tidaknya berolahraga, takaran dan jenis olahraga yang akan dilakukan. Jika dalam keadaan istirahat atau diam seseorang yang tekanan darahnya sudah mencapai 200/120 mmHg, dapat dibayangkan bila bergerak atau melakukan aktivitas fisik tekanan darahnya akan semakin naik pula.

            Oleh karena itu beberapa hal yang dapat dijadikan acuan yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk berolahraga diantaranya adalah :

1.   Penderita hipertensi sebaiknya dikontrol atau dikendalikan tanpa dengan obat terlebih dahulu tekanan darahnya, sehingga tekanan darah sistolik tidak melebihi

      160 mmHg dan tekanan diastolik tidak melebihi 100 mmHg. Artinya seseorang yang menderita hipertensi jika ingin berolahraga harus mengontrol tekanan

      darahnya, kalau mungkin sampai taraf relatif normal yaitu tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.

2.   Hal yang sangat bijak jika sebelum berolahraga anda mendapatkan informasi mengenai penyebab hipertensi yang sedang diderita, sekaligus kalau mungkin

      juga informasi mengenai kondisi organ tubuh lainnya yang akan terpengaruh oleh penyakit tersebut. Antara lain bagaimana keadaan jantung, ginjal, serta

      pemeriksaan laboraturium darah maupun urin. Kondisi organ tersebut akan mempengaruhi keberhasilan dalam memperoleh pengaruh positif olahraga yang

      anda lakukan.

3.   Sebelum melakukan latihan sebaiknya telah dilakukan uji latih jantung dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai reaksi tekanan darah serta

      perubahan aktivitas listrik jantung (EKG), sekaligus menilai tingkat kapasitas fisik. Berdasarkan hasil uji latih ini dosis latihan dapat diberikan secara akurat.

4.  Pada saat uji latih sebaiknya obat yang sedang diminum tetap diteruskan sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap kenaikan beban. Apakah obat sudah

      tepat, artinya tekanan darah berada dalam lingkup ukuran normal atau masih menunjukan reaksi hipertensi saat anda diberi tes pembebanan.

5.   Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya tahan (endurance) dan tidak boleh menambah peningkatan tekanan sehingga bentuk latihan yang

      paling tepat adalah jalan kaki, bersepeda, senam dan berenang (olahraga aerobik).

6.  Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan. Olahraga yang bersifat kompetisi dikhawatirkan akan memacu emosi sehingga akan mempercepat

      peningkatan tekanan darah.

7.  Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan. Seperti angkat beban dan sejenisnya . Olahraga ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah secara

      mendadak dan melonjak.

8.  Secara teratur memeriksa tekanan darah sebelum dan sesudah latihan. Olahraga pada penderita tidak hanya ditentukan oleh denyut jantung tetapi juga berdasarkan

      reaksi tekanan darahnya.

9. Salah satu hasil dari olahraga pada penderita hipertensi adalah terjadi penurunan tekanan darah, sehingga olahraga dapat menjadi salah satu obat hipertensi. Bagi

      penderita hipertensi ringan (tensi 160/95 mmHg tanpa obat), maka olahraga disertai pengaturan makan (mengurangi konsumsi garam) dan penurunan berat

      badan (bagi yang berlebih) dapat menurunkan tekanan darah sampai tingkat normal (140/80 mmHg).

10.Umumnya penderita hipertensi mempunyai kecenderungan adanya kaitan dengan beban emosi (stres). Oleh karena itu disamping olahraga yang bersifat fisik

      dilakukan pengendalian emosi. Upaya yang mungkin dilakukan adalah mendekatkan diri dengan Tuhan.

11. Jika hasil latihan menunjukan penurunan tekanan darah, maka dosis obat yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan penyesuaian. Untuk itu tanyakan pada

      dokter ahli yang menangani hal tersebut.

2. Mekanisme Menurunya Tekanan Darah

            Untuk mengetahui mekanisme menurunya tekanan darah, sebaiknya kita simak dahulu fenomena alam. Kalau kita perhatikan arus sungai, arus menjadi deras jika sungainya kecil, sebaliknya jika arusnya lambat maka sungainya lebar. Arus sungai diidentikkan dengan aliran darah didalam pembuluh darah, jika pembuluhnya mengecil tekanannya akan meningkat, sebaliknya jika pembuluh melebar tekanan akan turun. Salah satu hasil latihan fisik yang teratur adalah pelebaran pembuluh darah sehingga tekanan darah yang tinggi akan menurun. Pengaturan lain yang akan mempengaruhi turunnya tekanan darah adalah terkendalinya pusat pengaturan darah di dalam tubuh. Hal lain adalah hormonal yang biasa memacu tekanan darah semakin sedikit dikeluarkan atau dipakai. Semua faktor diatas memberi kontribusi atas turunnya tekanan darah.

3. Manfaat Latihan Olahraga Bagi Jantung dan Tubuh

            Manfaat olahraga bagi jantung dan tubuh antara lain :

a. Kerja jantung efisien

b. Keluhan nyeri dada ketika melakukan aktifitas akan berkurang atau menghilang

c.  Kadar lemak didalam darah akan semakin menurun

d. Pembuluh darah jantung atau arteri koroneria akan lebih besar dan lebar dibanding dengan orang yang tidak terlatih. Disamping itu kolateral atau pembuluh darah baru bila sudah terjadi penyempitan atau penyumbatan.

e. Pembuluh darah setelah operasi atau setelah pelebaran dengan balon tetap terbuka.

f. Mencegah timbulnya penggumpalan darah.

g. Enzim bekerja lebih efisien.

h. Kemampuan tubuh atau kesegaran jasmani akan meningkat.

E. PENUTUP

            Latihan olahraga bisa dijadikan sebagai upaya prepentif sekaligus terapi  dalam mengatasi hipertensi hingga tekanan darah yang tinggi dapat diturunkan. Dan untuk pengembangan lebih lanjut perlu kiranya penelitian-penelitian yang mengarah pada metode, bentuk latihan olahraga yang dihubungkan kepada tekanan darah seseorang.

F. DAFTAR PUSTAKA

Dustan HP. 1980.Hypertension In : Heart Book. USA : American Heart Association

Kalim H, Santoso K, dan Sunarya S. 1996. Pedoman Tatalaksana Dislipidemia dalam Penanggulangan Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : Persatuan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia.

Kalim H. 2000. “Aspect of Hypertension on Left Ventrcle Hyperthtopy and Cardiovascular Disease”. Di dalam : Simposium Hypertension therapy bt the Year. Jakarta.

Kusmana, Dede. 1997. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Jakarta : FK UI. 

Lumbantobing, SM. 1998. Stroke. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia.

Mawi M. 2000. Hipertensi : Patogenesis, Patofisiologi, dan Komplikasi. Jakarta : Majalah Widya . No. 177 tahun XVII

Roesma J. 2000. “Renal Aspect of Essential Hypertension”. Di dalam : Simposium Hypertension Therapy bt the Year. Jakarta.